Memaafkan adalah hal yang sangat sukar dilakukan.
Bahkan kalo dalam situasi terngamla lagi itu hati yang macam barah api penuh dengan kupulan asap di udara sampai termenangis. Bahkan memandang disido rabas yang tukang kasi sakit itu ginowo pun suda rasa muak.
Lebih-lebih lagi gia itu jika kita dikecewakan oleh orang yang dekat dengan kita
Paling akrab, teman tapi mesra, kawan yang kita percayai, membesar bersama om satu ketika dulu main guli bersama
lastik burung, patak-patak beli ice cream om yang kita perlakukan dengan sangat baik.
Walaubagaimana pun nak, mari kita lajar-lajar bab-bab mengampuni gia walaupun sya ini inda seberapa gia aisyemen.
Tentu kamurang sudah pernah membacanya bukan
dalam kitab Matius 18:21-25 gia, iaitu tentang
Perumpamaan Tentang Hamba Yang Tidak Mahu Mengampuni Orang
Dalam keseritaan ini di awali dengan perbualan Petrus dengan Yesus
Petrus : " Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?
Yesus : Bukan! Aku berkata kepada-mu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
Hal yang dimaksudkan oleh Yesus tentu saja bukan berfokuskan tentang berapa banyak kita harus mengampuni. Kerana itu, Yesus memberikan perumpamaan tentang hal kerajaan surga dimana fondisinya tentang sikap hati kita dalam pengampunan.
Di mana inti dari perumpamaan itu adalah bahawa jika sang raja saja mau mengampuni om membebaskan hutang hambanya, mengapa sang hamba itu inda boleh melakukan perkara yang sedemikian kepada kawannya yang terlilit hutang bahkan menyerahkannya pula ke dalam penjara
So, terhadap orang yang seperti itu, sang raja pun marah gia kerana hamba itu sudah mendapat pengampunan, tetapi ia inda pula dia mahu mengampuni kawannya. Kerana itu, ia diserahkan kepada algojo untuk menerima hukuman. Itulah seberapa sedikit dia punya sinopsinya tentang perumpamaan gia
Jadi apa yang saya pelajari om perolehi dari keseritaan dalam lenungan kita bersama gia.
Pengampunan bukanlah tentang berapa kali kita boleh dan harus mengampuni.
Yesus mengajarkan bahawa masalah pengampunan itu adalah masalah hati yang bersyukur dan tahu diri bahawa kita sudah terlebih dahulu menerima pengampunan dan bebas dari segala tanggungjawab dan hukuman.
Panggilan Yesus adalah sempurnakanlah syukurmu dengan keberanian untuk mengampuni orang lain.
"Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?"
(Mat. 18:33)
Mengampuni orang lain inda hanya membebaskan orang lain dari rasa bersalah, tetapi juga membebaskan kita gia dari perangkap kepahitan hidup.

nice gia...Love this~
BalasPadamaiseyemen gia
Padam